JOGLITFEST 2019

Joglitfest 2019 Beri Perhatian Generasi Penerus Sastra Jawa dan Sastra Indonesia

Hari kedua penyeleggaran Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) 2019 berlangsung di berbagai tempat (28/9). Pameran Manuskrip di UIN Sunan Kalijaga, Ceramah Literasi dan Seminar Sastra di Hotel
Melia Purosani, serta Seminar Sastra Milenial di MAN 2 Yogyakarta dan MTSN 9 Bantul. Sementara itu, di lokasi utama, yaitu Benteng Vredeburg, ada banyak agenda seperti Pasar Sastra, Dikusi Buku,
Workshop Sastra Jawa, Panggung Sastra, dan Sastrawan Membaca.

Yang menarik dari gelaran hari kedua ini adalah panitia memberikan perhatian kepada generasi penerus sastra Jawa dan sastra Indonesia melalui Seminar Sastra Milenial dan Workshop Sastra Jawa. Keduanya terhitung jarang mendapatkan perhatian. Sastra Jawa menjadi penting dalam festival ini karena keberadaannya di kota Yogyakarta yang sarat dengan kebudayaan Jawa. Sementara Sastra Milenial merupakan bagian penting dari generasi penerus sastrawan Indonesia.

“Upaya-upaya untuk merebut hati generasi penerus untuk mencintai sastra harus terus dilakukan. Dengan cara ini, kita harapkan para remaja tertarik dan tidak melulu terjebak pada budaya pop. Festival ini memberi ruang kepada mereka,” kata Suharmono Arimba, ketua panitia Joglitfest 2019.
Diadakan di Hotel Melia Purosani, Workshop Sastra Jawab diikuti puluhan peserta remaja dengan antusias. Setelah dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, pemberian materi dilanjutkan oleh para pembicara, yaitu Sinar Indra Krisnawan dan Slamet Nugroho.

“Geguritan iku kalebu puisi jawa modern, amarga ora kaiket aturan (guru lagu, guru wilangan, guru gatra) kayadene tembang,” tutur Sinar Indra Krisnawan yang menjelaskan bahwa geguritan merupakan puisi Jawa modern karena tidak terikat aturan.

Selesai dengan materi, peserta yang hadir pun langsung praktik dan membuat puisi berbahasa Jawa.Mereka mengaku tidak kesulitan karena sudah dibekali cara-cara membuat geguritan.

Di tempat berbeda, di ujung barat Jl. Ahmad Yani, Workshop Sastra Milenial diselenggarakan. Peserta yang seluruhnya adalah siswa MAN 2 Yogyakarta itu, tak kalah antusias dengan workshop di tempat lain. Pasalnya, menurut pihak sekolah, terhitung jarang ada panitia atau sastrawan yang datang ke
sekolah mereka. Oleh sebab itu, pihak sekolah menyambut dengan baik kegiatan ini.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh siswa dan kemudian dilanjutkan materi oleh pembicara, yaitu Kiki Sulistio, Toni Lesmana, Frischa Aswarini, dan dimoderatori oleh Anes Prabu.

Masing-masing pembicara mengisahkan proses kreatif mereka untuk memberikan semangat kepada para siswa untuk berkarya.Latar belakang apa pun tidak menjadi soal, asal ada ketekunan untuk terus belajar.

Selain itu, disampaikan pula pemanfaatan teknologi untuk berkarya.Generasi milenial yang tidak bisa terlepas dari teknologi sudah seharusnya berdamai dengan produk zaman itu dan memanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas karya.

Sementara untuk siswa SMP, Workshop Sastra Milenial diselenggarakan di SMPN 9 Bantul. Hadir sebagai pembicara adalah Alfian Dippahatang, Ida Fitri, Iwan Segara, Mustafa Ismail, dan dipandu oleh Adrian Eksa.

Dalam kesempatam itu disampaikan bahwa keberadaan ruang internet atau medsos yang tidak membatasi wadah para generasi minelial dalam bersastra (menuliskan karya). Seluruh pembicara sepakat bahwa kecanggihan teknologi harus didayagunakan sebagai jalan bagi generasi milenial untuk berkarya.

Puluhan peserta workshop yang seluruhnya perempuan itu terlihat antusias menyimak pembicara yang bergantian memberi mereka ilmu. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun terkesan kritis.

Workshop Sastra Jawa ini merupakan rangkaian untuk tiga hari ke depan. Besok (29/9) akan hadir pembicara Dhanu Priyo Prabowo , Setya Amrih Prasaja dan lusa (30/9) ditutup oleh Suhadi. Workshop dilaksanakan di tempat yang sama, Hotel Melia Purosani.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *