ANJANGSANA NGOPINYASTRO III : “NAPAK TULIS PAPAN TILAS” (SITUS WARUNGBOTO PESANGGRAHAN REJOWINANGUN)

ANJANGSANA NGOPINYASTRO III :
“NAPAK TULIS PAPAN TILAS”
(SITUS WARUNGBOTO PESANGGRAHAN REJOWINANGUN)

Situs-situs sejarah di Yogyakarta bukanlah sekadar dongeng anak cucu, akan tetapi suatu keniscayaan yang dapat kita jejak kembali, sejarah dan spiritnya. Menilik makna pesanggrahan pada zamannya merupakan tempat peristirahatan para raja dan kerabatnya seusai berburu, dengan tujuan memberi ketenangan dan kenyamanan. Di samping itu, pesanggrahan juga menyediakan banyak tempat yang berhubungan dengan religiusitas.

Terlepas sebagai destinasi wisata, yang perlu dicatat di sini adalah “Situs Pesanggrahan Rejowinangun merupakan jejak Raja dengan segala kisah dan spiritnya”. Keberadaan sumber air sebagai simbol kehidupan, kunjungan pejabat Belanda pada zamannya, menjadi bukti, di Situs Rejowinangun inilah spirit mereka berkembang, suatu fenomena pernah terjadi di sana, dan tidak menutup kemungkinan memiliki kontribusi dalam sejarah dan medan seni.

Turut bergerak dalam Paralel Event Biennale Jogja ke- 14, Ngopinyastro akan menggelar “Anjangsana Ngopinyastro” dengan mengambil salah satu titik di kota Yogyakarta yaitu Situs Pesanggrahan Rejowinangun Warung Boto. Mengangkat sebuah tajuk “Napak Tulis Papan Tilas”, kegiatan ini hendak menghadirkan temu antara multidisiplin seni dan performance yang lebih fleksibel dan spontan. Perfomance itu berupa pembacaan puisi, live painting on canvas, musik, teater, dan berkolaborasi dengan siapa saja yang berkenan dalam hal ini masyarakat Warung Boto.

Bukan hanya sekadar mengamini makna harfiah “pesanggrahan” sebagai tempat peristirahatan, melainkan arti dari mencari ketenangan dikulik perlahan oleh Komunitas Ngopinyastro dengan sewajarnya, bahwa ruang kontemplatif bagi para sosok penyemangat zaman penting kehadirannya. Hal ini yang sekaligus menggerakkan Komunitas Ngopinyastro untuk bertemu di Pesanggrahan Rejowinangun. Bukan untuk menjadikan Pesanggrahan Rejowinangun sebagaimana perannya terdahulu, namun pesanggrahan sebagai ruang kontemplatif menarik untuk ditilik, juga tidak menutup kemungkinan diresapi semangatnya. Selain hal tersebut, diungkapkan oleh Riska SN selaku Presdir Komunitas Ngopinyastro, “bercermin pada sejarah juga merupakan satu langkah berarti untuk menuliskan sejarah kepada masa depan. Situs Pesanggrahan Rejowinangun adalah pilihan yang tak keliru untuk mengamini semangat itu tadi” begitu disampaikan Riska SN di gelaran Ngopinyastro Anjangsana Napak Tulis Malioboro pekan sebelumnya, Jumat (17/11).

Turut bergerak dalam Parallel Event Biennale Jogja ke- 14, Ngopinyastro akan menggelar “Babad Puisi, Merawat Riwayat” dengan mengambil salah satu situs bersejarah di kota Yogyakarta yaitu Warung Boto, dengan tajuk “Anjangsana: Napak Tulis Papan Tilas Pesanggrahan Rejowinangun”. Kegiatan ini hendak menghadirkan penampilan terkait dengan dunia sastra, tokoh dan ruang kreatif para sastrawan. Sastra menjadi topik utama dalam gelaran ini juga berupaya untuk merangkul dari berbagai multidisplin seni seperti seni rupa, tari dan musik.

Gelaran Ngopinyastro Anjangsana: Napak Tulis Papan Tilas Pesanggrahan Rejowinangun sendiri akan digelar pada Jumat, 24 November mendatang. Acara ini akan dimulai pukul 16.00 WIB dan mengambil tempat di Situs Pesanggrahan Rejowinangun, Warung Boto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Para performer terdiri dari berbagai lintas disiplin seni, di situ act performance seperti pantomim, live mural, musikalisasi puisi dan puisi teatrikal dipilih untuk merespon semangat zaman para tokoh yang pernah singgah dalam ruang tersebut. Sejauh mana publik menyikapi penampilan itu, sebagai pertunjukkan ataukah kiranya publik menganggap itu sebagai bagian dari spirit yang pernah ada di ruang tersebut? Jawaban dari pertanyaan tersebut tak berlebihan jika diambil sebagai tolak ukur keberhasilan Anjangsana: Napak Tulis Papan Tilas Pesanggrahan Rejowinangun.

Hadir dalam gelaran ini sebagai penampil, pertunjukkan (1) Teater oleh Gilang Alamsyah dkk dan Sanggar 28 Terkam, (2) pembacaan puisi dan musikalisasi puisi oleh Komunitas Ngopinyastro, Alfin Rizal, Rhy Husaini, Tubagus Nikmatulah, dan Warga Warungboto (3) Musik oleh Kopibasi, Ageroots and Small Axe, dan Greg Sidana (4) musikalisasi puisi oleh Perpustakaan Jalanan Purwokerto. Selain para performer dari lintas ruang kolektif, Ngopinyastro juga menggelar panggung bebas, berpenggang pada prinsip bahwa Ngopinyastro adalah taman terbuka bagi siapa saja yang ingin berbagi budi dan bahasa. Mempersilakan kepada siapa yang datang tanpa menilik latar belakang, bahwa anjangsana ini adalah panggung ekspresi dan spirit untuk semua. Ngopinyastro mengajak kawan-kawan untuk kembali mendekat, mengingat, dan mencatat: bahwasanya mengapresiasi tidak terbatas pada karya dan empunya karya, akan tetapi juga ruang proses kreatif dalam berkarya. Semangat itu menjadi titik tolak dari kegiatan ini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.