FESTIVAL FILM DOKUMENTER 2019

 

Festival Film Dokumenter 2019

Pada tahun 2019, gelaran Festival Film Dokumenter (FFD) sudah menginjak usia yang ke-18. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2002, FFD tetap konsisten menjadi wahana bertemunya film-film dokumenter dari seluruh penjuru Indonesia maupun mancanegara.

Program kompetisi merupakan salah satu program utama dari perhelatan FFD tiap tahunnya. Program ini didedikasikan untuk mempresentasikan film-film yang mampu menangkap isu-isu aktual di sekitar kita, serta mampu memberikan perspektif yang kritis terhadap isu-isu tersebut.

Tahun ini kami telah menerima total 286 film pendaftar, yang kemudian diseleksi hingga terpilih 26 film dokumenter. Film-film tersebut dibagi sesuai kategorinya, yaitu kategori film dokumenter Panjang Indonesia, kategori film dokumenter Panjang Internasional, kategori film dokumenter Pendek, dan kategori film dokumenter Pelajar.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, FFD tidak hanya sekadar menyajikan kompetisi film dokumenter semata. Program pemutaran film, diskusi, dan edukasi turut dihadirkan oleh FFD sebagai ruang pengembangan dokumenter, medium ekspresi dan ekosistem pengetahuan. Ini sekaligus menjadi tempat interaksi antara pegiat film, akademisi, seniman lintas bidang, programmer, distributor, hingga pelajar sekolah.

Total ada 15 program yang disajikan dalam FFD 2019, meliputi: Kompetisi; Perspektif; Spektrum; Docs Docs; Focus on Canada; Focus on Korea; Layar Lebar, Layar Kekerasan; Lanskap; Etnografi Indrawi; The Feeling of Reality (VR); SchoolDoc; DocTalk; Public Lecture; Lokakarya Kritik Film; dan Le Mois du Documentaire.

***

Penjelasan singkat mengenai program-program tersebut adalah sebagai berikut:

Perspektif merupakan program utama non-kompetisi tahunan, di mana tahun ini mengangkat isu kesehatan mental yang terjadi di sekitar kita. Dengan tidak terpaku pada persoalan klinis semata, kami mencoba untuk menghadirkan beragam aspek dan pendekatan lain dalam mengkerangkai program ini melalui enam film pilihan berjudul, 48 years – Silent Dictator (2018), Anxiety of Concrete (2017), China Man (2019), dan Good Neighbours (2018).

Spektrum adalah program dokumenter animasi yang untuk pertama kalinya dihadirkan oleh FFD. Ada tiga film dokumenter panjang dan empat film dokumenter pendek, yaitu The Lipsett Diaries (2010), Still Born (2014), Apart (2018), The Neighbours (2019), The State Against Mandela and the Others (2018), Felvidek. Caught in Between (2014), dan Le Film de Bazin (2017).
Docs Docs: Short! adalah program yang berfokus tentang pencapaian melalui medium film pendek. Pada praktiknya film pendek seringkali penuh dengan eksperimen, kebaruan bentuk dan perspektif yang variatif. Kali ini, ada delapan film pendek dari Jepang, Indonesia, Polandia, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Focus on Canada: Pacific Standard Time akan membahas tentang produksi film di Kanada lewat pemutaran lima karya film berjudul Opening Day (2016), Television Spots (1991), T.W.U. Tel (1981), Einst (2016), Seeing in the Rain (1981).

Focus on Korea: Remapping South Korean Women Directors dirancang untuk memperkaya khazanah perfilman Korea Selatan. Selama ini nama-nama besar sineas Korea dikuasai oleh laki-laki. Lewat program ini, kami mengajak penonton untuk menyimak karakter-karakter film yang digarap oleh perempuan sutradara Korea Selatan, seperti East Asia Anti-Japan Armed Front (2019), Heart of Snow: afterlife (2018), The Strangers (2018), Optigraph (2017), The Unseen Children (2018), dan Sweet Golden Kiwi (2018).

Layar Lebar, Layar Kekerasan adalah program tiga tahunan yang menjadi bagian dari penelitian “Screening Violence: A Transnational Study of the Local Imaginaries of Societies in Transition from Conflict.” Penelitian ini merupakan kolaborasi lintas lembaga dari Aljazair, Argentina, Kolombia, Indonesia, dan Inggris. Sepanjang FFD 2019 ini, kami mengajak Anda menonton dan mendiskusikan pengalaman kekerasan dari Aljazair, Kolombia, Malaysia, dan Taiwan yang masing-masing berjudul Lettre á ma sœur (2006), Falsos Positivos (2009), The Tree Remembers (2019), dan Our Youth in Taiwan (2018).

DocTalk dan Public Lecture merupakan program dari agenda diskusi. Isu-isu yang diangkat tahun ini berangkat dari berbagai kegelisahan, mulai dari persinggungan film dengan negara dan pasar, film dengan produksi pengetahuan, hingga film dengan perubahan sosial. Dua program ini akan menjadi ruang temu atas berbagai gagasan yang eksploratif, imajinatif dan kreatif.
1. Distribusi, Pasar, & Ekonomi Politik Film, “Rupa-Rupa Distribusi Film Kita”
2. Intermedialitas/Alih dan Silang Wahana, “Manuver Mata Mekanis: Video Art dan Film Dokumenter di Indonesia”
3. Film & Demokrasi, “Film Pendek dan Demokrasi yang Diinginkan”
4. Community & Society, “Memahami Ulang Bentuk Kekerasan dalam Komunitas dan
5. Pencegahannya”
6. Hacking Methods & Ethics Issue, “Intimacy and Ethic: Universal or Contextual?
7. Public Lecture; “Getting the Story Right, Telling the Story Well”
8. Public Lecture; “Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream”

Selain enam yang tertulis di atas, masih terdapat empat DocTalk yang menjadi bagian dari program FFD tahun ini, yaitu:
1. Kesehatan Mental dan Kebahagiaan yang Tidak Sederhana adalah diskusi yang serangkai dengan program Perspektif.
2. The Feeling of Reality; panel ini akan mendiskusikan salah satu program ekshibisi FFD 2019 yang digagas untuk menyampaikan pesan-pesan perihal kesadaran hak-hak kaum disabilitas melalui produksi film dokumenter Virtual Reality (VR). Perpaduan keduanya ingin membawa penonton lebih dekat mengalami keseharian penyandang disabilitas dari beberapa kota di Indonesia. Delapan film hasil fasilitasi lokakarya bersama FFD ini akan membawa Anda ke sebuah kontak yang diimajikan.
3. Etnografi Indrawi: Saksi Mata; panel ini akan mendiskusikan salah satu program ekshibisi FFD 2019 yang menghadirkan cuplikan persimpangan antara produksi audio-visual dan pendekatan etnografi indrawi. Menampilkan lima film pilihan (An Aviation Field, The Iron Ministry, House no.15, The Yellow Bank, Terrace of the Sea) yang dihasilkan oleh kolektif Antropolog SEL yang berbasis di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Produksi film-film tersebut mewakili bentuk uji coba perekaman kehidupan dan kebudayaan masyarakat di berbagai tempat dengan membangkitkan pengalaman-pengalaman indrawi.
4. Lanskap: Salam Untuk Abduh; panel ini akan mendiskusikan program FFD 2019 dengan judul yang sama. Program ini akan mengulas sekaligus merefleksikan kiprah Abdul Aziz dalam menyuburkan iklim perfilman Indonesia. Abduh Aziz adalah seorang tokoh perfilman Indonesia yang meninggal dunia pada 30 Juni 2019. FFD juga ingin melihat kembali kiprah Abduh Aziz, termasuk wilayah sosial-politik Indonesia, yang lebih luas lagi melalui film-film yang ia kawal sebagai produser.

SchoolDoc adalah ekshibisi yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan apresiasi film di kalangan pelajar. Pada tahun ini, Forum Film Dokumenter melalui Program SchoolDoc mengadakan lokakarya produksi film untuk pelajar SMA/sederajat yang mengangkat tajuk “Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri” dan menghasilkan lima karya dari lima peserta yang diputar mulai tanggal 2-6 Desember 2019 tiap hari Senin-Jumat pukul 13.00 – 20.00 WIB.

Lokakarya kritik film hadir sebagai perwujudan dari agenda edukasi. Peserta akan menghadiri pemutaran film selama festival untuk menulis tentang film dan mendiskusikannya bersama mentor dan sesama peserta. Tahun ini dari 32 pendaftar, terpilih delapan peserta untuk bergabung dalam lokakarya selama lima hari penuh dari 2 – 6 Desember 2019. Tugas akhir para peserta akan diterbitkan dalam buku digital yang didesain oleh FFD.

Le mois du documentaire tahun ini akan akan membicarakan definisi kebahagian yang dikejar oleh kelompok masyarakat dari beragam latar belakang dan menjadi bagian pertarungan identitas. Isu tersebut akan disajikan lewat pemutaran empat film yaitu, To the Four Winds (Libre) (2018), Cassandro, The Exotico! (2018), Le Grand Bal (2018), dan Nofinofy (2019).

Seluruh program acara FFD 2019 akan diselenggarakan dalam rentang tanggal 1 – 7 Desember 2019 yang bertempat di Taman Budaya Yogyakarta, IFI-LIP Yogyakarta dan Kedai Kebun Forum. Malam penghargaan kompetisi film dokumenter sendiri akan diadakan pada tanggal 7 Desember 2019 bersamaan dengan acara Penutupan Festival.

Selamat menikmati

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.