FILM “ZIARAH” TAYANG PERDANA DI FILIPINA

poster-ziarah-small-size

Dari Yogyakarta, Film Ziarah Menuju Festival Film Asia di Filipina

Film Ziarah akan diputar perdana pada Salamindanaw Asian Film Festival 2016 setelah sebelumnya lolos menjadi nominator Piala Dewantara Apresiasi Film Indonesia dan nominator Piala Citra Festival Film Indonesia untuk kategori Penulis Skenario Asli Terbaik. Film Ziarah akan berkompetisi dengan film-film Asia terbaik pada ajang yang akan diselenggarakan pada 7 hingga 13 November 2016 ini.

Salamindanaw Asian Film Festival adalah festival film internasional pertama di Filipina Selatan, yang dipelopori oleh sutradara terkemuka dari Filipina, Teng Mangansakan. Festival ini bertujuan untuk mempromosikan film-film Asia dengan fokus pada karya-karya independen yang dibuat oleh sutradara-sutradara muda berbakat yang dinilai mampu membawa perpsektif Asia dalam karya-karyanya, dalam rangka mendukung lahirnya gerakan baru perfilman Asia Tenggara. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan tersebut, festival ini juga melibatkan publik dalam menciptakan wacana populer dan kritis pada seni dan sinema. Sebelumnya film-film Indonesia yang pernah diputar dalam festival ini antara lain; Jalanan karya Daniel Ziv, Following Diana karya Kamila Andini, Mencari Hilal karya Ismail Basbeth dan Mulih karya Fajar Martha Santosa.

Film Ziarah sendiri merupakan film layar lebar pertama karya BW Purba Negara yang diproduksi secara independen bersama tim yang semuanya merupakan filmmaker asal Yogyakarta. Sebelumnya, BW Purba Negara lebih banyak membuat film pendek, dan sudah banyak karya-karyanya yang berhasil memenangkan penghargaan baik dalam skala nasional maupun internasional; diantaranya untuk film pendek yang berjudul Kamu di Kanan Aku Senang (2013), Bermula dari A (2011), Cheng Cheng Po (2007), Musafir (2008), Digdaya Ing Bebaya (2014) dan masih banyak lagi.
Film Ziarah bercerita tentang perjalanan Mbah Sri dalam mencari makam suaminya yang hilang semasa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1949. Tujuannya sederhana, agar kelak Mbah Sri dapat dimakamkan bersanding dengan makam suaminya. Ziarah adalah kisah tentang cinta, dengan sudut pandang yang tidak biasa. Kisah yang menunjukan bahwa cinta tak hanya milik kaum muda. Usia tua pun tetap dapat untuk mencinta, dibuktikan dengan tekad Mbah Sri untuk mencari makam suaminya yang hilang. Kisah ini akan menguraikan sedikit demi sedikit jejak sejarah cinta Mbah Sri. Bersamaan dengan itu, perjalanan tersebut juga menyingkap jejak kelam sejarah bangsa ini. Membuka tabir kepada mereka yang tersingkir dari tanahnya dan tetap berjuang untuknya.

Film ini digarap dengan apik dengan semangat gerilya dan merdeka. Dengan dana yang terbatas, BW Purba Negara dan seluruh tim film Ziarah membuktikan bahwa kemerdekaan berpikir dan berkarya bisa menjadi sumber kekuatan yang besar. Keinginan untuk memberikan sajian film yang berkualitas dan berbeda menjadikan keputusan untuk berjuang secara merdeka dipilih, merdeka secara gagasan, merdeka secara finansial, dan bebas dari kepentingan kapital. Dari mulai tim produksi yang ikut serta, proses penggarapan, hingga proses promosi dilakukan dengan cara-cara militan. Kolaborasi dengan berbagai pihak berlandaskan semangat gotong royong juga membuat film ini mungkin untuk terjadi. Film ini membuktikan pada kita bahwa kemerdekaan berkarya masih memiliki ruang dan dapat terus hidup dalam semangat sejati bangsa ini, yaitu semangat gotong royong.

still-image-ziarah-c still-image-ziarah-e

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.