JAMPI GUGAT

jampiGugat

JAMPI GUGAT

100 Penari bakal menggelar Gugat Jampi di Tugu Yogya 

Sabtu (21/9) mulai pukul 19.00 WIB sebanyak 100 penari, lengkap dengan pakaian kebaya dan jaritnya, bakal tampil menari di kawasan Tugu Yogya.  Selama lima menit kendaraan dari segala arah yang menuju Tugu ditutup total untuk perhelatan tari yang menjadi bagian dari acara Jogja International Perfomans Street (JIPS) ini. Tarian massal yang melibat penari-penari muda ini berjudul ‘Jampi Gugat’.

Menurut Kinanti Sekar Rahina, koreografer garapan ini, tarian ‘Jampi Gugat’ ini lahir dari kegelisahanya melihat nasib jamu yang saat ini kian terpinggirkan nasibnya. Jamu sebagai minuman khas Jawa (Indonesia) yang terbuat dari rempah-rempah asli Indonesia, yang justru pada perkembangannya kini semakin ditinggalkan, tergeser oleh perkembangan minuman-minuman modern yg lebih praktis dan siap saji.

“Jamu disini saya anggap sebagai aikon lokalitas yang keberadaannya hendak tergilas derasnya globalisasi. Semangat untuk mempertahankan lokalitas ini yang ingin saya hadirkan dalam karya saya ini, “ ujar Kinanti Sekar Rahina.

Dalam garapan ini, Kinanti Sekar Rahina, sengaja melibat 100 penari muda. Anak muda menjadi tumpuan masa depan bangsa, maka harus sejak dini dikenalkan kepada khasanah kekayaan budaya local. Tidak bias kita salahkan kepada generasi muda jika sekarang mereka lebih gandrung dengan budaya manca, karena memang selama ini upaya untuk mengenalkan budaya lokal kepada mereka jarang dilakukan.

“Dalam karya ini 100 penari mengenakan kebaya dan lengkap dengan jarik. Saya ingin menunjukkan bahwa generasi muda harus peduli dan bangga akan budaya kita sendiri, “ tandas anak semata wayang seniman Jemek Supardi ini.

Kinanti dalam garapan ini juga melibat Ari Wulu, komponis muda Yogya, untuk mengaransemen iringan tari. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis, tanpa dipunggut biaya.

“Harapan saya melalui karya ini bias menginspirasi temen-temen seusia saya untuk peduli dan bangga dengan kebudaya local. Jangan kita asyik memuja kebudayaa luar dan melupakan kebudayaan asli kita sendiri,” ujar Kinanti. (*)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.