LIPUTAN : RELEASE PARTY WARN!NG MAGZ COMPILATION VOL. 1 – 2017

acemojo

WARN!NGMAGZ present:

Release Party WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017
Pesta Kolaborasi Padat Karya

Begini kira-kira gambaran situasi hari Jumat 24 April 2017 lalu di Sangkring Art Space: ratusan orang datang bahkan sejak maghrib belum turun benar. Begitu malam tiba, sebagian sibuk menggila dengan goyangan badan liar di area panggung musik, sebagian memadati lorong tempat pameran artwork, sebagian berkerumun dengan cengkrama akrab di area outdoor tempat lapak, sebagian bolak-balik kesana-kemari tak mau ketinggalan satupun keriuhan di berbagai titik. Malam itu, mereka berkumpul untuk pesta rilis album WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017. Proyek yang diinisiasi oleh Titah AW dari WARN!NGMAGZ ini melibatkan 12 band dan 13 seniman dalam sebuah kolaborasi audio-visual. Proses yang dimulai dari open submission dan seleksi sejak Maret lalu akhirnya membuahkan 12 lagu yang direspon oleh 13 seniman visual.
Pameran artwork untuk merespon lagu diadakan di lorong Sangkring Art Space. Dalam ukuran cukup besar, masing-masing artwork dipajang di dinding lorong yang hari itu difungsikan sebagai galeri sekaligus gerbang masuk ke arena keriaan lain. Dua poster berukuran besar tertempel di bagian luar Sangkring Stock Room terlihat mengokupasi venue. Mengawali gelaran gig seru malam itu, tampil terlebih dulu duo eksperimental asal Brazil Sewing Machine Duet. Duo ini dibawa oleh Ruang Gulma dalam rangka tur mereka di 5 kota di Indonesia. Menggunakan mesin dan alat-alat jahit sebagai instrumen, duo ini memainkan bebunyian ganjil yang cukup mencuri perhatian.

Lepas itu, lineup dimulai dengan band-band yang termasuk dalam album WARN!NG Compilation Vol.1 – 2017 ini. Umar Haen mengawali line up malam itu. Membawakan tembang folk rancak seperti “Kisah Kampungku”, dan “Tak Ada Nalar Menuju Rumah”, Umar Haen berhasil menyulut suasana hangat yang menular. Trio Agoni yang biasanya tampil akustik malam itu mengisi departemen drum dan menghentak panggung lewat lagu-lagunya. “Aku Harap Laguku”, yang masuk ke kompilasi malam itu dibawakan dengan lebih bertenaga. Moshpit pun dimulai tak lama setelah itu. Ruff-riff seduktif Ace Mojo berhasil memancing penonton berkerumun dekat dengan stage yang memang dibuat tak berjarak dari penonton itu. Kuartet asal Solo ini masuk ke kompilasi lewat “After The Rain”, lagu yang mengisahkan perjalanan band mereka sendiri hingga ke formasi saat ini.

Summerchild setelahnya membuat penonton yang masih di belakang merangsek ke depan. Band yang beberapa bulan lalu baru meluncurkan albumnya Risau ini mengawali moshing dan crowdsurfing yang sambung-menyambung hingga penampil terakhir. “Intisari” yang masuk ke kompilasi WARN!NG dinyanyikan meriah oleh crowd yang sesekali maju merebut microphone. Satu hal yang menarik malam itu adalah bahwa ada juga perempuan yang menikmati crowd surfer, hal yang jarang ditemui di acara lain.

Namun massa tak hanya berfokus di depan panggung. Di area outdoor beberapa lingkaran manusia berkerumun dalam jumlah besar. Cengkrama hangat mengambang di udara disertai botol yang sesekali mendenting dan tawa lepas yang intim. Hari itu, enam lapak komunitas turut meramaikan acara. Mereka adalah Klub Bangsawan, Needle and Bitch, Gigi Nyala, Jogja Records Store Club, Barasub x Flock Project dan satu lapak istimewa. Lapak ini diinisiasi oleh WARN!NG, Buku Akik, dan Berdikari Book sebagai lapak donasi untuk mendukung perjuangan kawan-kawan di Kendeng. Berbagai barang dijual seperti kaos, patch, minuman fermentasi, artprint, buku dan notebook. Semua keuntungan dari lapak ini akan disalurkan ke Kendeng. “Ini adalah inisiasi kami, supaya jadi bukti kalau anak muda nggak cuma bisa pesta aja, tapi pesta sambil tetap bersolidaritas mendukung perjuangan kawan-kawan di sana,” ujar Tomi Wibisono dari WARN!NG.

Kembali ke area gig, unit postrock terdepan Yogya saat ini, Niskala tampil kemudian. Venue yang dibuat remang-remang nampaknya makin membebaskan energi para penonton. Nomor-nomor instrumental yang intens dan dreamy di beberapa titik ini membuat banyak kepala mengangguk-angguk pasrah mengikuti irama. “Legacy Of The Moon”, single terbaru mereka dimainkan sebagai pamungkas. Jeda kemudian tak berlangsung cukup lama, satu tegukan di lingkaran kawan sampai Kota & Ingatan memulai setlistnya. Unit anyar asal Yogyakarta ini mengangkat narasi manusia dan konflik di perkotaan sebagai tulang punggung lagu-lagunya, kesemuanya dibungkus dalam balutan musik rock bertenaga. Larik “Peluru peluru kan mencarimu.. peluru peluru kan mencarimu..” dari lagu “Peluru” sempat jadi anthem yang dinyanyikan paling nyaring dengan tangan mengepal malam itu. Hentakan-hentakan kaki meliar, peluh bercampur lewat sikut dan lengan yang saling bersenggolan tak beraturan, diakhiri dengan tepuk tangan meriah. Sebagai pamungkas, Marmolys mengokupasi panggung. Crowd sudah mendidih, moshing sudah panas bahkan sebelum reff pertama disudahi. Berkali-kali personil Marmolys diangkat bak adegan pemujaan. “Cosmic Still” jadi pamungkas jitu. Liukan-likuan psychedelic yang dibusuri oleh lengking vokal tajam yang menyoal eksistensi diri ini seperti hiptonis pencabut rasa sungkan di moshpit. Angkat, sikut, lari, goyang, cabikan-cabikan gitar menawan dan diakhiri dengan teriakan dan tepuk tangan panjang. Tuntas sudah, tujuh band kompilasi malam itu menampilkan performa terbaik mereka. Tak sedikitpun tensi sempat turun.

Malam itu WARN!NG juga bekerjasama dengan kolektif komik BARASUB untuk memproduksi boxset kompilasi terbatas dengan jumlah 30 buah. Boxset ini dibuat khusus untuk merayakan event ini “Pinginnya ini berlanjut sih jadi ada volume 2, 3 dan seterusnya, agar makin banyak karya teman-teman yang terwadahi juga. Makin banyak wadah kan mengundang makin banyak karya dan kolaborasi,” ujar Titah AW. . Selain itu, album kompilasi WARN!NG Ini sudah terdistribusi lewat kanal streaming online dan tautan unduh yang bisa diakses lewat web WARN!NGMAGZ.

LINK UNDUH:
http://www.warningmagz.com/released-warnng-compilation-vol-1-2017/

Daftar Line Up WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017
1. Acemojo – “After The Rain” | artwork by: Tanaya Sompit
2. Egon Spengler – “Not Dead Enough” | artwork by: Chrisnafernand
3. Whitenoir – “Sub-District” | artwork by: Dian Ultramanminmun
4. Summerchild – “Intisari” | artwork by: Matamerahcomix
5. Umar Haen – “Kisah Kampungku” | artwork by: Reza Kutjh
6. Murphy Radio – “Gales The Stargazer” | artwork by: Isnain Bahar
7. Agoni – “Aku Harap Laguku” | artwork by: Dellana Arievta
8. Kota & Ingatan – “Peluru” | artwork by: Bodhi IA
9. Ash Shur – “The Great Depression” | artwork by: Enkankomr
10. Sugar Kane – “If You Want” | artwork by: Harry Jow
11. Marsmolys – “Cosmic Still” | artwork by: Sekar Bestari
12. Niskala – “Legacy of The Moon” | artwork by: Doni Singadikrama

crowd kota & ingatan lorong sangkring marsmolys masmolys sewing machine duet tomhai4s umar haen

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.