ALBUM KEDUA AIRPORTRADIO “SELEPAS PENDAR NYALANG BERBAYANG”

 

Album Terbaru Airportradio,
Ruang Imajinasi Sembilan Seniman Indonesia

Setelah tujuh tahun berproses dengan kehidupannya masing-masing, para personel Airportradio bereuni kembali di tahun 2017 dan kini bersiap meluncurkan album kedua, Selepas Pendar Nyalang Berbayang pada akhir Oktober 2018 mendatang. Materi musik Airportadio dalam album baru ini menjadi stimulus auditif sekaligus ruang imajinasi bagi sembilan seniman Indonesia yang dilibatkan di dalam pembuatan video-video album itu.

Seperti halnya album pertama, Turun dalam Rupa Cahaya (2010), album kedua Airportadio ini juga akan dirilis di bawah naungan label Demajors Independent Music Industry (DIMI). Dengan meniadakan suara gitar, Airportradio yang beranggotakan Benedicta R Kirana (vokal), Ign Ade (bass), Deon Manunggal (Synth) dan Prihatmoko Moki (drum) bermaksud menciptakan komposisi musik yang tenang dan bernuansa low untuk mendukung perasaan kesepian, sendiri, sekaligus menempatkannya pada keteduhan jiwa.

Musik Airportradio dikonstruksikan mengawang, seperti berada di ruang kosong, untuk memberikan keleluasaan bagi pendengarnya dalam berimajinasi dan menciptakan narasinya sendiri. Untuk memperkuat ide itu, Airportradio–yang mengusung genre downtempo–berkolaborasi dengan sembilan seniman untuk merespons delapan lagu dengan karya video mereka masing-masing.

Dalam proses kolaborasi itu, Airportradio tidak ikut menyodorkan narasi lirik dari masing-masing lagu di album terbarunya itu ke para seniman tersebut. Kesembilan seniman Indonesia yang terdiri dari beragam latar belakang atau disiplin ilmu seperti perfilman, seni rupa, seni busana, seni pertunjukkan, dan multimedia, itu diminta merespon lagu-lagu itu secara bebas atau sesuai imajinasi mereka sendiri (lihat profil Airportradio, hlm. 7-10).

Kesembilan seniman itu adalah Ig Raditya Bramantya, Katia Engel, Faozan Rizal, Lala Bohang, Lulu Lutfi Labibi, Roby Dwi Antono, Ruth Marbun, Terra Bajraghosa, dan Wulang Sunu.

“Dalam merespon video (album) ini, kami melibatkan seniman yang memiliki karakter visual serta disiplin ilmu yang bervariasi. Selain itu, penting juga untuk mendapatkan representasi gender yang seimbang dalam respon karya,” terang Prihatmoko Moki, penabuh drum Airportadio.

Katia Engel, koreografer tari, dan suaminya yang sutradara film, Faozan Rizal, misalnya, diminta membuat video dari Alpha Omega, yang sebetulnya mengangkat tema soal agama atau keyakinan manusia. Permintaan itu direspon mereka dengan klip video yang mengisahkan perjalanan kereta metro di Berlin, Jerman. “Bagi kami, aransemen lagu ini membangkitkan perasaan seperti waktu melakukan perjalanan, yaitu di mana titik awal adalah titik akhir. Perjalanan kereta pasti berhenti, tetapi akan selalu berlanjut. Ini menawarkan perspektif atau cara pandang baru terhadap situasi yang biasanya dikaitkan dengan kebosanan dan kekosongan,” tukas Katia.

Adapun seniman lainnya, Lulu Lutfi Labibi, menggandeng model dan pemeran film Setan Jawa, Asmara Abigail, dalam pembuatan video lagu …of the street yang menjadi penutup album tersebut. “Benang merah dari lagu ini sebenarnya tentang patah hati. Namun, saya ingin menerjemahkannya lebih
luas dan spontan. Ketika patah hati, kita bisa merayakan sakitnya dengan cara menyenangkan walaupun itu sangat memilukan,” ungkap Lulu, seniman busana asal Yogyakarta.

Kedelapan video garapan sembilan seniman itu akan diluncurkan satu per satu melalui saluran media sosial Airportradio (akun @airportadio), yaitu di Youtube, Facebook, dan Instagram, mulai Senin (24/9) ini hingga menjelang pesta peluncuran albumnya pada 24 Oktober 2018 mendatang.

Kelanjutan perjalanan
Album kedua ini merupakan representasi kelanjutan perjalanan dari Turun Dalam Rupa Cahaya, album pertama Airportadio. Cahaya, yang telah mencapai tempat tujuannya, kini bermetamorfosis sebagai mahluk berbayang bernama Nyalang yang berarti membelalak (lihat profil Airportradio, hlm. 5-6).
Ilustrasi cover album ini dibuat oleh Roby Dwi Antono, pelukis surealis asal Yogyakarta.

Keseluruhan musik dalam album kedua ini merupakan hasil inkubasi selama 2 hari di rumah sewa Jakarta Selatan pada awal 2017 silam. Keseluruhan lagu yang ada pada album kedua ini merupakan sintesis dari cerita 4 orang teman lama, para personil Airportadio, yang telah kembali dipertemukan dan menceritakan perjalanan kehidupan mereka masing-masing setelah sempat berpisah sekian lama.

“Kami antusias dengan hasil dari album kedua ini. Berbeda dengan album pertama, album kedua disusun dalam waktu singkat selama dua hari saja, sehingga alur cerita dan rasa dari keseluruhan lagu terasa koheren,” kata Benedicta, vokalis Airportadio.

Ia berharap album kedua ini dapat diapresiasi positif, tidak ubahnya album pertama yang dirilis delapan tahun silam. Turun dalam Rupa Cahaya, album perdana band yang didirikan di Yogyakarta itu, menerima sejumlah penghargaan antara lain Top Award dari Asia Pacific VOICE independent Music Award (AVIMA) 2010 “Thank You for Existing – Most Inventive, Innovative and Creative Indie Act” serta masuk dalam nominasi lagu elektronik favorit dari Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2010.

“Coba dengar dan biarkan sistem resepsi Anda
bekerja menerima materi musik mereka. Mereka
seperti menyodorkan stimulus auditif dan kita bebas
memaknai bahan dengaran sesuai kemampuan
imajinasi kita. Komposisi AIRPORTRADIO seperti
muncul di ruang sepi, sebuah wilayah yang tak dijamah
band hari ini yang serba riuh.”
Frans Sartono, Kompas 2010

Tentang AIRPORTRADIO
Guratan nada distorsi mungkin akan membuat orang ingin segera menutup telinganya rapat-rapat. Maka dalam benak Moki, Ade, dan Deon tebersit keinginan untuk lebih bereksperimen dengan suara dalam komposisi yang tenang dan bernuansa low. Mereka meniadakan suara gitar yang ingar-bingar dan menggantikannya dengan karakter suara yang rendah untuk mendukung perasaan kesepian, sendiri, dan gelisah, sekaligus menempatkannya pada keteduhan jiwa. Upaya AIRPORTRADIO menghasilkan nada yang tidak konvensional dengan alat yang minimalis itu menghasilkan aransemen yang
menggambarkan kebisingan dalam kesunyian.

Tidak seperti musik pada umumnya yang didominasi oleh satu instrumen musik atau vokal saja, AIRPORTRADIO lebih menekankan pada susunan harmoni dalam komposisi yang seimbang. Eksperimentasi musik tersebut diungkapkan dengan nada yang ganjil dan instrumen yang tidak koheren. AIRPORTRADIO mengungkapkan kesunyian yang riuh dan membawa pendengarnya pada imajinasi ruang ciptaan mereka sendiri.

Terbentuk pada awal 2005, AIRPORTRADIO mulanya adalah band instrumentaleksperimental hingga mereka memutuskan bahwa materi yang mereka aransemen lebih mudah menjangkau audiens dengan kehadiran vokalis. AIRPORTRADIO lalu berkolaborasi dengan sejumlah vokalis hingga Benedicta bergabung pada Oktober 2005. Kehadiran vokal bukan untuk mendominasi komposisi, tapi bagian dari instrumen musik itu sendiri. Suara tipis dan gumaman puitis menjadi kepingan aransemen.

A W A R D S
• Pemenang LA Lights Indiefest 2009
• Thank You for Existing (Most Inventive, Innovative and Creative Indie Act) – Top Award – Asia Pacific VOICE Independent Music Award (AVIMA) 2010
• Most Mind Blowing Music Video – lagu “Turun Dalam Rupa Cahaya” – AVIMA 2010
• Moody Melancholic Masterpiece – lagu “Preambule” – AVIMA 2010
• Nominasi lagu elektronik favorit – lagu “I’m Lonely When I’m Better” – Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2010

KONTAK
• E: airportradioband@gmail.com
• Alfonsus Lisnanto: 085729887707
• Benedicta R Kirana: 08175411441

PERSONEL


Prihatmoko Moki – Drum
Lulusan Jurusan Seni Grafis ISI Yogyakarta. Bersama Malcolm Smith, ia mendirikan Krack!, studio dan galeri seni grafis di Yogyakarta. Moki terlibat dalam berbagai pameran seni rupa di dalam negeri dan mancanegara seperti ARTJOG 2018 dan Europalia 2017. Proyeknya meliputi “Prajurit Kalah tanpa Raja”, Mukamalas, KW2, Gegerboyo, dan Lelagu. Lelagu adalah platform pertunjukan, kombinasi antara musik dengan live visual. Selain itu, Moki terlibat dalam seni multidisipliner seperti PUNKASILA.

Sebagai drummer, Moki mengeksplorasi pemainan simbal, menciptakan suasana riuh untuk memenuhi komposisi lagu. Dia aktif menciptakan komposisi lagu seperti yang terdengar pada lagu “Nirmana Warna”, “Black Pepper”, dan “… of the street”.

Benedicta R Kirana – Vokal
Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang berpindah haluan menjadi praktisi komunikasi untuk program kemanusiaan dan program pembangunan di Indonesia. Sedang bekerja di program kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia yang berfokus pada sektor pengetahuan untuk mendorong penyusunan kebijakan berbasis bukti. Saat ini aktif mendukung Bappenas dalam Indonesia Development Forum. Sebelumnya bekerja untuk Komisi Aparatur Sipil Negara, Bank Dunia, dan Palang Merah Jepang.

Sebagai vokalis, ia memasukkan rasa dalam aransemen dengan tenang dan sesederhana mungkin, tanpa harus mendominasi lagu. Tujuannya untuk menciptakan ruang imajinasi tanpa mendikte dengan narasi. Dia aktif menulis lirik dan merespons nada seperti yang terdengar pada lagu “Green Sparkle”, “The Episodes”, “Black Pepper”, dan “… of the Street”.

Deon Manunggal – Synth
Seorang sound engineer di sebuah kasino di Kamboja. Sebelumnya bekerja dalam bidang yang sama di Jakarta, selepas dari kuliahnya di Jurusan Media Rekam ISI Yogyakarta.

Dalam bermusik, Deon memiliki kebiasaan untuk mengonstruksi ulang aransemen pilot, sertamenjadi arsitek suara dan struktur lagu AIRPORTRADIO. Kadang ia terlalu ambisius sehingga pascaproduksi bisa memakan waktu berbulan-bulan demi menambahkan lapisan suara pada setiap lagu. Nada dan suara sintetis yang dipilihnya memang bising tapi tenang.

Ign Ade – Bass
Relawan di Animal Friend Jogja yang aktif membela hak binatang. Akhir akhir ini menerbitkan serial komik satwa, #komikgendut, untuk meningkatkan kesadaran welas asih terhadap binatang. Komik tersebut bisa diakses di akun Instagram @ignadee. Saat ini, sudah terbit empat edisi dengan judul Topeng Monyet, Sirkus Lumba2, Orangutan dan Manusia, serta Harimau dan Manusia. Sebelumnya ia bekerja sebagai ilustrator di Jakarta, tapi ditinggalkan demi kebaikan yang lebih besar.

Nada yang dipilihnya tidak sinkron dengan piano, janggal, tapi menyeimbangkan komposisi. Nadanya kerap sederhana, menabrak ketukan, tapi tidak kikuk. Dalam membuat lirik, ia tidak pernah menyusunnya secara naratif, seperti pada “ Jagal” dan “Alpha Omega”.

TENTANG ALBUM KEDUA
Setelah tujuh tahun berproses dengan kehidupan masing-masing di tiga kota yang berbeda, personel AIRPORTRADIO berkumpul kembali pada awal 2017. Melakukan inkubasi selama dua hari di rumah sewa di Jakarta Selatan, band menghasilkan delapan aransemen pilot. Selanjutnya struktur aransemen tersebut disusun selama empat hari di sebuah studio di Kramat, Jakarta Pusat. Proses ini ditutup dengan rekaman live pada hari ketujuh, yang disertai drama “gugur”-nya IX 300 kesayangan karena pemakaian terus-menerus selama tujuh hari.

Perbaikan synth memakan waktu beberapa bulan. AIRPORTRADIO merekam ulang semua track di studio KUA Etnika di Yogyakarta pada akhir 2017. Proses pascaproduksi dilakukan hingga Maret 2018.

Album kedua ini lalu diberi judul Selepas Pendar Nyalang Berbayang, sebuah kelanjutan dari Turun Dalam Rupa Cahaya, album pertama. Cahaya yang melakukan perjalanan telah sampai ke tujuan dan bermetamorfosis menjadi makhluk bernama “Nyalang”, yang berarti membelalak. Setelah berpendar, ia berbentuk dan berbayang, membuka matanya pada dunia baru.

DAFTAR LAGU:
1. Alpha Omega
2. Green Sparkle
3. Black Pepper
4. the Episodes
5. Nirmana Warna
6. Letterlijk
7. Jagal
8. … of the Street
9. Wuri

SELEPAS PENDAR NYALANG BERBAYANG
Apa yang ada di hadapannya tak jelas. Ia bergerak maju, meraba-raba, dan melapangkan jalan. Ia membelalakkan mata untuk memperjelas pandangannya.
Tubuhnya berpendar, makin lama makin pudar. Ia merasakan dadanya meletupletup seperti mau meledak. Tubuhnya terasa hangat. Lalu perlahan ia mendapati semua yang ada di hadapannya menjadi jelas.

Warna, bentuk, bau, dan suara. Tapi itu semua terlampau baru dan menakutkan. Ia kemudian mencari persembunyian dan diam dalam kegelapan. Perlahan ia mengenali sedikit demi sedikit tubuhnya yang baru, inderanya yang baru, dan rasanya yang baru. Tubuhnya yang berpendar makin lama makin hilang binarnya. Ia pun keluar dari kegelapan mencari terang di luar. Beberapa lama ia melanglang sebagai cahaya, sampai kemudian turun, membumi, dan bermetamorfosis menjadi sebuah bentuk. Namanya Nyalang. Setelah pendar, ia berbayang.

Cover album: Roby Dwi Antono, pelukis surealis asal Yogyakarta

TENTANG RESPONS ATAS LAGU DI ALBUM KEDUA
Musik AIRPORTRADIO dikonstruksikan mengawang seperti berada di ruang kosong untuk memberikan keleluasaan bagi pendengarnya berimajinasi dan menciptakan narasinya sendiri. Untuk memperkuat ide tersebut, AIRPORTRADIO berkolaborasi dengan sembilan seniman untuk merespons delapan lagu dengan karya video.

Mereka adalah Ig Raditya Bramantya, Katia Engel dan Faozan Rizal, Lala Bohang, Lulu Lutfi Labibi, Roby Dwi Antono, Ruth Marbun, Terra Bajraghosa, serta Wulang Sunu. AIRPORTRADIO tidak memberikan narasi lirik kepada para seniman tersebut dan malah meminta mereka merespons secara bebas. Berikut
hasilnya:

Alpha Omega
Sebagian besar manusia memilih agama sebagai jaminan keselamatan dan “karcis” masuk surga. Agama menjadi satu-satunya jalan. Apa yang tertulis adalah mutlak. -AIRPORTRADIO

“Bagi kami, aransemen ini membangkitkan perasaan seperti sewaktu melakukan perjalanan, di mana titik akhir adalah titik awal. Kami memutuskan merekam video jalur kereta di Berlin yang melingkar di pusat kota. Kereta pasti
berhenti, tapi akan selalu berlanjut.

Kami memotong gambar dan menyisakan ruang pandang sempit yang tampak seperti melihat dunia lain walaupun sebenarnya merupakan rekaman situasi keseharian orang yang pergi dan pulang kerja. Ruang pandang sempit ini memperlihatkan gambar yang ritmis dan berfokus pada detil yang biasanya tidak kita perhatikan. Menawarkan perspektif, dan cara pandang baru terhadap situasi yang biasanya dikaitkan dengan kebosanan dan kekosongan.” –Katia Engel & Faozan Rizal

Green Sparkle
Tidur tergulung di bantal. Kucing dengan mata hijau berbinar. Namanya Cemi, sudah mati. -AIRPORTRADIO

“Ketika airportradio bersenandung lirih, you don’t know what’s going on in your head, maka muncul kalimat hanyut sejak dalam pikiran. Karena terkadang semua kesulitan dan asumsi yang menyusahkan semuanya berasal dari arus kepala kita sendiri. Hati-hati, jangan tenggelam.” –Lala Bohang

Black Pepper
Dua jiwa aneh tumbuh kesepian dan tidak dicintai, sampai mereka menemukan satu sama lain. Menertawakan kehidupan yang kering, yang hanya dipahami mereka. Gelap dan keringnya hidup mereka diwakili tanaman berbunga kering: lada hitam. -AIRPORTRADIO

“Cara mencintai seseorang itu dinamis. Tidak melulu mengandung romantisme sebagai alur dan pengisi sebuah hubungan diantara dua orang. Cerita dari video ini merupakan gambaran seorang perempuan yang menghasratkan kasih sayang dan sentuhan dari pasangan yang acuh terhadap hubungan mereka. Bebal dengan rengekan, lelaki ini berkeseharian tanpa memperdulikan perasaan pasangan, menjadikan hari mereka dipenuhi dengan tengkar. Walau demikian, perempuan itu tetap membaktikan diri kepada lelakinya dengan tetap memandikan, mendulang, dan melimpahkan keintiman fisik. Pola hubungan sepasang kekasih yang aneh ini tergambarkan jelas melalui bagaimana sang perempuan merasa kecanduan dengan sadisme, dan sang lelaki yang terbiasa menerima afeksi tanpa harus memberi balasan.” -Ig Raditya
Bramantya

The Episodes
Penderita manik depresi, gagal mati, tapi justru menemukan kejernihan hati. -AIRPORTRADIO

“Orde barang, istilah yang saya karang biar keren, saya pinjam untuk visual pengiring komposisi The Episodes. Barang-barang yang saya tumpuk sudah saatnya dikaryakan. Saya biarkan mereka tampil apa adanya, bersukaria setelah disekap cukup lama dalam kaleng bekas biskuit.” –Terra Bajraghosa

Nirmana Warna
Tentang mereka yang menabrak norma di balik tebalnya pencitraan ketaatan mereka pada agama. -AIRPORTRADIO

“Lagu Nirmana Warna mengingatkan akan perjalanan mewujudkan keinginan yang seringkali dibelokkan oleh kenyataan melalui perkenalan, perpisahan, peraduan, peruntungan, persoalan, dan sebuah kesimpulan akan kebutuhan.” –Ruth Marbun

Letterlijk
Susunan nada baku ala AIRPORTRADIO: nada monoton terus menghantui dan memuncak di akhir komposisi. -AIRPORTRADIO

“Cerita tentang pencarian si Jitron (Anjing Elektronik) mencari sosok kedamaian. Di tengah hiruk-pikuk kota yang ramai, di antara baliho-baliho yang berbaris rapat, dan di antara untaian kabel listrik, Jitron mencari sosok yang memberikannya kedamaian. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan banyak makhluk pula. Namun untuk mencari sang empunya damai, Jitron harus memiliki hati yang teguh dan tawakal. Setiba di lapangan bola kampung, ia menemukan penjaga gawang yang ternyata mampu membawanya bertemu sang empunya damai.

Ini adalah refleksi saya sendiri atas apa yang saya alami sehari-hari. Entah mengapa sering kali saya terbuai menghabiskan waktu hanya memantengi media sosial dan merasakan cemas dan kehilangan rasa damai. Lalu hal itu saya bentuk dalam karakter seekor anjing yang terbuat dari kumpulan barang elektronik.” –Wulang Sunu

Jagal
Pembenaran terhadap kuasa manusia atas hewan berujung pada sikap menutup mata terhadap kenyataan bahwa hewan juga memiliki perasaaan sedih, takut, dan sakit. -AIRPORTRADIO

(Sedang dikerjakan oleh Roby Dwi Antono)

… of the street
Seorang perempuan merasakan kepuasan atas tujuan terbesar dalam hidupnya yang segera tercapai: matrimoni.

Pertunangan diputuskan malam sebelum pernikahan. Sebuah hampir atas kebahagiaan. Kesedihan yang mencekik mencegahnya menyebutkan hal yang menjadi sakitnya. Judul lagu sebenarnya adalah titiktitik yang ia hindari untuk disebutkan. -AIRPORTRADIO

“Ketika mencoba membuat konsep karya, saya selalu berangkat dari sesuatu yang dekat, yang saya paham betul apa yang saya buat. Begitu juga dengan klip ini. Benang merah dari lagu ini sebenarnya tentang patah hati. Tapi saya ingin menerjemahkannya lebih luas dan spontan. Maka mengalirlah narasi yang panjang.

Dimulai dengan seorang model Asmara Abigail yang sedang ngobrol seputar apa pun yang sedang terjadi sekarang di warung soto langganan, mengendarai mobil penggiling padi di lapangan, menari bersama kambing, berlarian di pasar tradisional, dan diakhiri dengan kejutan di akhir video. Bahwa ketika patah hati, kita bisa juga merayakan sakitnya dengan cara yang menyenangkan walaupun ini sangat memilukan.” –Lulu Lutfi Labibi

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.