PERGELARAN SEENDRATARI 2015: RORO MENDUT

poster pergelaran sendratari roro mendut copy

PENGANTAR: RORO MENDUT

Produksi teranyar Unit Kegiatan Mahasiswa Grup Tari Sanata Dharma (UKM Grisadha) dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Karawitan (UKM Karawitan) Universitas Sanata Dharma akan dipentaskan pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015 di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kolaborasi antara seni tari dan seni karawitan kali ini diangkat dari salah satu trilogi novel klasik karya Rm.Y.B. Mangunwijaya, Roro Mendut, ke dalam sebuah pergelaran sendratari dengan judul

Ketangguhan di Balik Sampul Kecantikan Roro Mendut”.

Mendut, sosok wanita bebas, keras hati dan tak mudah takluk oleh keinginan-keinginan dari luar. Karunia kecantikannya yang luar biasa membuat Mendut mudah menjadi primadona para lelaki, mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, hingga panglima perang. Hingga suatu hari, Mendut diambil paksa oleh panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna untuk dijadikan selir. Bukan atas dasar kesukaan pribadi semata, melainkan juga sebagai perlambang kehebatan perang bahwa ia mampu menaklukan wanita pesisir, Pati, daerah pemberontak Mataram pada masa itu. Keberadaannya sebagai ‘barang rampasan perang’ ternyata tidak membuat Mendut berkecil hati. Rasa bakti pada tanah kelahiran serta cintanya kepada Pranacitra justru membuat Mendut semakin tangguh serta tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya pun dianggap menyimpang dari tatanan di lingkungan istana dimana perempuan diharuskan bersikap serba halus dan serba patuh.

Karya Roro Mendut dalam tulisan Romo Mangun sendiri berusaha memberikan dimensi nilai-nilai pemikiran mendasar berupa keterlibatan manusia, terutama sosok perempuan dengan segala realitas kehidupan dan problematika eksistensial yang dihadapinya. Sebagai perempuan, Mendut adalah seorang yang memiliki prinsip. Sifat perempuan, kecantikannya, kesetiaannya, dan keterampilannya membuat laki-laki mudah jatuh hati kepadanya. Sebagai perempuan bebas, ia tidak menggantungkan segala kebutuhannya kepada laki-laki. Mendut menegaskan pengakuan dirinya sebagai individu yang selalu berusaha mencapai nilai-nilai hidup dengan segala keakuannya.

Kolaborasi seni tari dan karawitan dalam pagelaran sendratari Roro Mendut ini juga menjadi simbol adanya sinergi antara para pelaku seni di wilayah kampus pada khususnya dan kesenian pada umumnya sekaligus untuk memberikan nilai dari sebuah pertunjukan sebagai media penyampai pesan yang baik. Maka gambaran Roro Mendut juga sejatinya merupakan sebuah refleksi, bagaimana amarah, cinta, serta perjuangan konflik adalah bagian dari proses pematangan dan pendewasaan yang membuat seseorang semakin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bermakna…

You may also like...

1 Response

  1. zakaria says:

    ijin copas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.