UNIT HARDCORE TERBARU DARI MALANG “NOOSE BOUND” SIAP MERAMAIKAN BLANTIKA MUSIK INDONESIA

Malang kedatangan satu pendatang baru di blantika musik cadasnya yaitu Noose Bound. Alkisah di penghujung 2017 Drummer dari Shewn dan Every Rage Away ingin bereksperimen dengan sound yang lebih keras dari dua band yang ia awaki saat itu. Akhirnya Raditya Rio mengajak vokalis Brightside Haze yaitu Bagaskoro Akmal untuk mengisi posisi frontman. Keduanya dipertemukan oleh Code Orange dan Knocked Loose yang masih dalam benang merah metallic hardcore 2010an. Merasa ada chemistry, kemudian mereka berdua sepakat untuk merekrut personil lain untuk membawa ide ini ke permukaan dunia, alhasil mereka memutuskan mengajak teman – teman dekat mereka seperti Devrizal Maruapey (Sharkbite), Alfin Ramadhan (Leftover dan Wordsworth) untuk bergabung dengan mereka di posisi bass dan gitar. Sempat pula dibantu Very Sapto (Inheritors) di posisi gitar setelah beberapa kali sesi jamming.

Bersamaan dengan peristiwa dua sahabat musisi internasional yaitu Chris Cornell dan Chester Bennington yang tewas terikat jerat simpul gantung diri. mereka berlima akhirnya memutuskan memilih nama Noose Bound yang juga berarti terikat jerat. Setelah beberapa lama, karena sesuatu hal Noose Bound akhirnya tinggal berempat menyisakan Rio, Bagas, Devrizal dan Alfin. Beruntung ada seorang kawan gitaris bernama Ananda Krisna (I’m Sorry I’m Lost dan The Wild Hangover) yang kemudian diajak untuk sesi jamming dan akhirnya timbul chemistry, Ananda pun direkrut menjadi anggota tetap.

Beberapa kali bermain di acara – acara di kantung pergerakan musik cadas di Malang seperti God Bless Cafe, Noose Bound akhirnya memutuskan untuk merekam beberapa materi dan pilihan single untuk dirilis jatuh kepada “Paint Me Red” di awal 2018. Nampaknya bunuh diri menjadi atmosfir utama band ini, isu depresi yang melanda dewasa muda dan kaum urban masa kiniterinspirasi dari fenomena bunuh diri, menjadi tema lagu ini. “Paint Me Red” bercerita tentang bagaimana keputusasaan dapat melanda seseorang ketika hidup tidak selalu berjalan sesuai apa yang kita mau. Dengan penulisan lirik dari sudut pandang orang pertama, ‘Paint Me Red’ menggambarkan bagaimana subyek dari lagu ini telah kehilangan harapan dan arti dari kehidupan yang ia jalani. Subyek merasa hidupnya tidak lagi berharga, akhirnya menyalahkan takdir atas apa yang sedang ia alami. Di sisi lain subyek juga sadar bahwa hidup memang tidak pernah adil dan berlaku sama bagi semua orang, dan apapun yang menimpa dirinya, adalah konsekuensi dari keputusan yang ia pilih. Merasa membenci hidup juga dirinya sendiri, sang subyek memutuskan untuk bertemu dengan kematian di akhir bait lagu ini. Pesan yang ingin disampaikan Odari lagu ini kepada pendengarnya adalah: adil/tidaknya kehidupan hanyalah perihal perspektif, disadari atau tidak kehidupan memang tidak pernah adil dan berlaku sama bagi semua orang, ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita mau, pilihan selanjutnya kembali ke pribadi masing-masing, akankah menyerah kepada keterpurukan dan terus menyalahkan takdir, atau berusaha lebih baik untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Contact
Email : nooseboundhc@gmail.com
Twitter : www. twitter.com/NooseBound
Instagram : www.instagram.com/nooseboundhc/
Bandcamp : https://noosebound.bandcamp.com/
Spotify : https://open.spotify.com/artist/28Rz53mTl9qREoZmo7RYX4?fo=1
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCEaMl13XCbDYgIuXzKz-2LQ

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.