DIBUAT SAAT WISUDA, VIDEO MUSIK UMAR HAEN “DI JOGJA KITA BELAJAR” AKHIRNYA RILIS

Processed with VSCO with c8 preset

Dibuat Saat Wisuda, Video Klip “Di Jogja Kita Belajar” Akhirnya Dirilis

Paska dirilis Februari lalu, Umar Haen akhirnya resmi merilis video klip untuk lagu “Di Jogja Kita Belajar” pada 30 September 2018 kemarin. Lagu ini sebelumnya telah dirilis sebagai single ketiganya pada Februari lalu di berbagai kanal streaming seperti Spotify, iTunes, Dezeer, Joox, Youtube dan Soundcloud. Single ini lahir sebagai rangkuman pengalamannya sebagai mahasiswa yang tinggal di Yogyakarta selama 7 tahun. Siapapun yang sudah mendengar lagu ini pasti mengumpat kecil, atau tertawa-tawa sambil mengenang mitos-mitos kehidupan ala mahasiswa yang secara gamblang dibongkar Umar Haen.

Pengerjaan video klip ini sebenarnya tak memakan waktu lama. Namun keinginan Umar Haen untuk merekamnya saat momen wisuda membuatnya harus menunggu beberapa waktu hingga tiba di hari-H acara. Tak seperti video klip yang umumnya merupakan garapan terencana, video klip ini dibuat dari kumpulan footage nyata dari acara wisuda di kampus Universitas Gadjah Mada periode Agustus 2018 lalu, saat Umar Haen sendiri akhirnya menyandang gelar sarjana.

“Ku buat video klipnya saat wisuda supaya momennya pas, dan sebagai tanda bahwa aku memang sudah berhak menyanyikan lagu itu karena perjalananku sebagai mahasiswa sudah lunas,” kelakarnya.

Menampilkan rekan-rekan wisudawan dan wisudawati, serta tak ketinggalan rektor UGM dalam footage-nya, Umar Haen berharap video ini bisa benar-benar membawa hawa kehidupan mahasiswa yang sebenar-benarnya. Wisuda yang selalu dianggap sebagai momen sakral bagi tiap mahasiswa nyatanya lebih membosankan ketimbang kuliah-kuliah di kelas.

Dalam track berdurasi 04:59 menit ini, ia menyampaikan secara gamblang dan jenaka soal macam-macam “pengalaman” dan “ilmu” yang tak hanya bisa didapat di ruang kelas yang membosankan, maupun tumpukan tugas yang menyita waktu luang. “Pengalaman” yang mungkin saja menjadi kekhawatiran para orang tua saat melepas anaknya jadi mahasiswa. Meski begitu, Umar Haen percaya bahwa sebenarnya setiap anak muda punya batas dan cara sendiri untuk mengatur bagaimana ia belajar, bersenang-senang, atau belajar sambil bersenang-senang sekaligus.

Untuk video klip ini, Umar Haen berkolaborasi dengan Ritus Studio, sebuah rumah produksi yang masih digawangi oleh “pelaku kenakalan” di lagu ini. Juga menambahkan teks yang merupakan tulisan tangan Bambang Nurdiansyah, salah seorang seniman muda asal Yogyakarta yang tengah naik daun.

Video klip “Di Jogja Kita Belajar” ini merupakan video klip pertama yang dirilis Umar Haen. Menyusul dalam waktu dekat, album perdana yang telah digarap selama kurang lebih satu tahun juga akan dirilis. Tak hanya menyoal kehidupan mahasiswa seperti di lagu “Di Jogja Kita Belajar”, di albumnya nanti Umar Haen juga akan mengangkat kegelisahan anak muda soal hidup, asmara, dan pilihan-pilihan yang harus diambil ketika kehidupan makin terasa nyata.

“Akhirnya setelah menyelesaikan kewajiban dari orang tua sebagai anak untuk jadi sarjana, aku sudah bisa fokus garap album. Saat ini pengerjaan album sudah sampai tahap produksi, semoga sudah bisa dirilis dalam waktu dekat. Salam tipis-tipis lur!”

About UMAR HAEN
Youtube : Umar Haen
Spotify : Umar Haen
Facebook Page: @umarhaenmusic
Instagram: @umar_haen

LIRIK:
“Di Jogja Kita Belajar”

Mitos tentang Jogja hantui orangtua
Lepas anaknya jadi mahasiswa
Rantai kekang tak lagi berwenang
Kuasa penuh di tangan si bocah
Yang kini beranjak dewasa
Belajar menalar agama di anggap tak rasional
Gemar mengutip Si Kumis Tebal

Jauh dari orangtua
Diasuh orangtua lainnya

Tipis-tipis air menipis, tipis-tipis air menipis
Jangan kena tanggung, malam belum habis

Nakal alkohol patungan berkawan
Atas nama jalin keakraban
Nakal seksual di remang kamar kosan
Desah disamarkan suara dendang
Nakal narkoba berkenalan di skena
Atas nama membuat karya

Sewu-sewu ayo dadi banyu
Sewu-sewu ayo dadi banyu
Ojo ragu-ragu daripada entuk ciu

Processed with VSCO with c8 preset

UMAR HAEN
Jika solois pada umumnya menggunakan satu instrumen saja atau tidak sama sekali, maka bolehlah menyebut Umar Haen tidak biasa. Selain gitar di pelukan, ada ketuk cajon serta krincing tamborin; keduanya dimainkan dengan kaki, wujudkan komposisi dinamis yang kaya dalam kesederhanaannya. Single terbarunya, “Kisah Kampungku” menyajikan aroma ringan petrichor, pun gentingnya pesan di balik irama mayor menyenangkan. “Anak-anak desa berimpian kota”–demikian fenomena yang diangkat–nyatanya juga terjadi di desa-desa lainnya, dan begitulah Umar berharap kisah-kisahnya membelantara; terhubung dengan kejadian yang juga dirasakan pendengarnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.