SUMMERCHILD RILIS ALBUM PERDANA DALAM PERTUNJUKAN “RISAU”

ig

Summerchild Rilis Album Perdana dalam Pertunjukan “Risau”

Summerchild sebagai trio project yang dijalankan oleh Dhandy Satria (gitar, vokal), Paulus Ryan Haryanto (bass), dan Yusak Nugroho (drum) akhirnya menuntaskan album pertamanya dengan judul “Risau”. Dalam album ini, Summerchild kiranya telah merangkum proses bermusiknya sejak tahun 2015. Kata Risau dipilih karena menurut mereka, kata itulah yang menjadi dasar musikalitas mereka. Kerisauan yang dirasakan mereka tak jauh dari kerisauan atas eksistensi sebagai manusia. Kehadiran sebagai Aku dipertanyakan dalam beberapa lagu mereka. Album yang memuat sembilan lagu ini akan diluncurkan bersamaan dengan pertunjukan musik berjudul sama, Risau.

Dalam pertunjukan tersebut, Summerchild akan menceritakan kembali proses bermusik mereka. Kerisauan yang muncul dari masing-masing personil biasanya akan dibedah saat mereka melakukan sesi latihan rutin. Berawal dari kamar Dhandy, lirik dan aransemen Summerchild dibuat. Bisa dikatakan, peluncuran album tersebut akan menampilkan sebuah simulasi, di mana mereka bertiga berproses seperti biasanya, di dalam kamar yang disulap menjadi studio musik. Menurut Summerchild, apresiasi atas sebuah karya layak dimulai sejak dalam prosesnya. Untuk itulah, pertunjukan Risau merupakan sebuah nilai tawar yang diberikan Summerchild kepada audiens agar memahami bagaimana sebuah kerisauan dapat diolah sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi sebuah lagu yang bisa disuguhkan.

Untuk itulah kami mengundang rekan-rekan sebagai saksi atas proses yang telah ditempuh Summerchild dalam mengolah risau pada Rabu, 7 Desember 2016 di IFI LIP Yogyakarta. Sebab kerisauan layak diperhatikan, karna dari sanalah manusia bergerak.

Salam,
Tim “Risau”
Ayu Saraswati – 085865520077

Meracau Risau
Salah satu pengalaman paling purba manusia adalah kerisauan. Rasa risau tersebut merangkum kecemasan dan keterasingan yang dialami manusia. Summerchild menangkap fenomena ini sebagai penggerak atas sebuah karya musik. Sebagai trio, Dhandy Satria (vokal, gitar), Paulus Ryan Haryanto (bass), dan Yusak Nugroho (drum) mengolah pengalaman atas risau agar pepat dalam lirik dan aransemen yang dibuat. Pertunjukan “Risau” adalah simulasi sebuah proses mengolah rasa. Masyarakat yang akrab dengan lagu populer tentang cinta agaknya terlalu bebal untuk mempertanyakan kerisauan yang lain: identitas. Di sinilah Summerchild memberikan sebuah tawaran untuk mempertanyakan eksistensi sebagai manusia, layakah sebuah identitas dirisaukan?
Kerisauan atas tubuh juga tampak dalam lagu “See without Eyes”, manusia sebagai jasad yang naif memiliki hasrat untuk melampaui ruang dan waktunya. Bisa jadi sikap risau dalam See without Eyes menghasilkan dua hal. Yang pertama adalah kontemplasi sudut pandang. Yang kedua hanya menghasilkan rasan-rasan kolektif. Parahnya, masyarakat populer lebih memilih mengolah risaunya menjadi rasan-rasan. Kemudian pada lagu “She Adore the Moon, and Love the Light”, ada jebakan yang muncul dari kerisauan batiniah. Kesadaran diri yang larut dalam hasrat kerumunan membuat Aku sebagai identitas, kehilangan kesadaran otentik, “she narated people dream and now she get lost”.
Kerisauan yang muncul dalam lagu-lagu Summerchild berasal dari tiga penjara manusia. Penjara yang pertama adalah penjara kesadaran diri yang tidak otentik yang menyebabkannya manusia terkurung dalam penjara ruang dan penjara waktu. Dalam penjara ruang, Aku sebagai identitas terjebak pada kenyamanan objek yang tak pernah selesai dan tak pernah terpuaskan. Hingga Ia membentuk dunianya sendiri yang membuat nyaman dan puas. Dalam penjara waktu, manusia terjebak pada ilusi waktu, terjebak siklus hidup mati. Seperti dalam lagu “Time”, Summerchild menyadari waktu sebagai sesuatu yang tak bisa dikembalikan, “you just drive so fastly, and I know I can’t go back”. Agar terlepas dari penjara tersebut manusia membutuhkan keterputusan rutinitas menuju “Titik Terjauh”. Keterputusan rutinitas bisa terjadi saat manusia kehilangan objek yang melekat, yang dicintainya atau dimiliknya. Sehingga muncul kerisauan yang lain, yang membawa manusia mempertanyakan kesadaran dirinya yang otentik.
Namun apakah dengan melepas objek manusia mampu kembali otentik? Bisakah manusia tak harus mengalami risau? Saya akan mengutip lirik dalam lagu “Intisari” sebagai penutup skema risau-nya:
Temu dalam diam,
Cerita kuasa,
Selang waktu lusa,
Doa tak terjawab,
Pergi hilang arah,
Terhasut logika.

Lalu bagaimana dengan lagu yang lain? Apakah seluruh lagu Summerchild dalam album perdananya mampu memetakan kerisauan manusia? Ada baiknya jika kita mencoba menyimak pertunjukan Risau secara utuh, jika tidak bisa lepas dari penjara manusia, setidaknya kita bisa lepas dari rasan-rasan kolektif yang muncul dari kerisauan. Ah, saya terlalu meracau… Pancal sajalah Dab!

Bodhi IA

summerchild

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.