ARTIST TALK 100% YOGYAKARTA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Artist Talk 100% Yogyakarta
Apa yang terjadi jika Rimini Protokoll bersama Teater Garasi dalam “100% Yogyakarta”: menghadirkan 100 orang warga Yogyakarta, orang-orang biasa, ke sebuah panggung teater? Pertunjukan yang merupakan bagian dari Jerman Fest tersebut akan berlangsung pada tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 nanti. Dan pada hari Minggu (25/10) yang lalu Rimini Protokoll dan Teater Garasi menggelar artist talk di Rumah Seni Cemeti. Bincang-bincang ini bertujuan untuk mengenalkan Rimini Protokoll dan mengungkap beberapa hal yang terjadi di balik proses penciptaan pertunjukan “100% Yogyakarta”.
Acara artist talk “100% Yogyakarta” tersebut terasa semakin istimewa dengan kehadiran Heinrich Blomeke, Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru. Blomeke hadir, khususnya untuk memperkenalkan Jerman Fest, inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Jerman yang diorganisasi oleh Goethe-Institut Indonesien, Kedutaan Besar Jerman dan EKONID.
Dibuka oleh Blomeke yang berbicara tentang Jerman Fest, Rimini Protokoll kemudian mempresentasikan sejumlah karya mereka yang lain. Adapun karya-karya tersebut memiliki benang merah dalam hal eksperimentasi dan bagaimana mereka bermain-main dengan kenyataan. Hal ini sesuai dengan fokus kerja mereka, yaitu terus mengembangkan alat teater untuk memungkinkan perspektif yang tidak biasa atas realitas.
“100% Yogyakarta” sendiri adalah sebuah pertunjukan yang berbasis data statistik, risetnya bahkan dimulai dari Balai Pusat Statistik Yogyakarta.  Mengumpulkan 100 orang warga Yogyakarta dengan persyaratan statistik tertentu bukanlah perkara gampang. Tantangannya besar, dan seperti dipaparkan oleh Naomi Srikadi yang malam itu mewakili Teater Garasi, terkadang tim casting mereka juga dibuat terlena oleh cerita hidup dari orang-orang yang mereka temui.
Salah satu hal menarik lain yang diungkapkan oleh Stefan dari Rimini Protokoll adalah bagaimana warga yangi karena perbedaan latar belakang mungkin sebelumnya tidak memiliki kesempatan untuk saling berinteraksi, kini berada dalam panggung yang sama. Bahkan ia menambahkan, sejumlah warga belum pernah menginjakkan kaki di Taman Budaya Yogyakarta sebelumnya. Kini, dengan 100% Yogyakarta, 100 orang yang mewakili keberagaman Yogyakarta tersebut, tidak hanya tampil, namun juga membawa golongan yang diwakilinya untuk hadir, menonton, dan merasakan pengalaman yang sama.
Dalam “100% Yogyakarta” nanti, 100 orang warga akan menjawab berbagai pertanyaan yang sebagian besar bersumber dari mereka sendiri, diambil dari hasil wawancara casting mereka. Ketika ditanya bagaimana mereka mengantisipasi pertanyaan yang sifatnya sensitif, Stefan menyatakan mereka sudah memiliki trik untuk itu, yakni dengan memanfaatkan tata cahaya agar partisipan merasa nyaman dan privasinya tetap terjaga.
Tidak diragukan lagi memang, sebab “100% Yogyakarta” merupakan bagian dari proyek 100% kota yang sebelumnya telah digelar Rimini Protokoll di 26 negara di dunia, yang di antaranya adalah Berlin, Melbourne, London, dan baru-baru ini, Penang. Setiap kota memunculkan karakter beserta kenyataannya masing-masing, begitu pula yang akan terjadi dengan 100% Yogyakarta. Akan ada banyak hal tak terduga, namun bisa jadi, akan banyak pula perkara yang familiar bagi warga Yogyakarta lainnya. Dengan naskah yang disusun berdasarkan cerita hidup masing-masing warga partisipan, maka “100% Yogyakarta” adalah sebuah pertunjukan yang separuhnya adalah teater dan separuhnya lagi kenyataan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *