MEMBACA DEE : SUPERNOVA

sosial-media-kotak-ig-fb-dll

Membaca Dee: Supernova

8 Desember 2016 – Kadang Kala bekerjasama dengan Bentang Pustaka akan menggelar pertunjukan berjudul Membaca Dee: Supernova. Pertunjukan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 22 dan 23 Desember 2016 di auditorium IFI-LIP Yogyakarta, pukul 19.30 wib. Selain pertunjukan, dalam rangkain acara Membaca Dee: Supernova, akan dilangsungkan pula dua sesi diskusi. Pertama, adalah peluncuran buku Catatan-catatan: “masihkah ada cinta d(ar)i Kampus Biru?” (bekerja sama dengan Teater Gadjah Mada) pada tanggal 22 Desember 2016. Diskusi kedua adalah Meet and Greet Dee Lestari: 15 tahun Supernova pada tanggal 23 Desember 2016. Kedua diskusi ini akan dilaksanakan pukul 15.00 wib sampai dengan 17.00 wib tiap harinya, di tempat yang sama.

Pertunjukan Membaca Dee: Supernova merupakan upaya menghadirkan tafsir dan eksperimantasi dari sebuah karya sastra (novel) ke dalam medium pertunjukan. Bertindak sebagai kreator dalam proses kali ini adalah Irfan R Darajat dan Annisa Hertami. Irfan R Darajat adalah seorang pemusik, pencipta lagu, sekaligus juga seorang pengkaji media budaya dalam tradisi akademis. Ia membaca Dee, membaca Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Refleksi pembacaannya akan menjadi pintu masuk terciptanya peristiwa panggung. Maka, yang kemudian muncul adalah lagu, monolog, dan reproduksi adegan (peristiwa) dalam novel yang sengaja dipilih untuk mempercakapkan tema tertentu: Orientasi seks para tokoh dalam novel.

Zahra adalah tokoh dalam novel Supernova: Partikel. Annisa Hertami aktris sinema dan panggung memiliki pendidikan multimedia, akan menubuhkan tokoh Zahra ini ke dalam dirinya. Maka, yang kemudian akan muncul adalah peristiwa-peristiwa tubuh, tari, monolog, tafsir peristiwa, dan montase video yang tersusun untuk mengurai biografi Zahra. Berbasis diri para seniman ini maka panggung akan bercerita tentang para pembaca dan tokoh-tokoh yang dibaca. Panggung menjadi arena ulang-alik antara tokoh yang membaca dan tokoh dalam bacaan. Lebih jauh lagi, bahwa proses kreatif ini akan menjadi ajang bagaimana sebuah karya sastra yang panjang ‘novel’ ditafsirkan menjadi sebuah peristiwa panggung.

Sekilas tentang Kadang Kala

Kadang Kala adalah sebuah kelompok kratif lintas disiplin, dibentuk oleh sejumlah insan muda, datang dari berbagai macam latar belakang, dan mempunyai kesamaan dalam hal kecintaan terhadap khasanah sastra dan seni Indonesia. Sejak berdirinya Kadang Kala telah memproduksi dua pertunjukan, pembacaan sastra “Igobula, Clara dan Ego” (April 2016) bertempat di Kedai Kebun Forum dan “Cerita Bodhi, Elektra, dan Alfa” (Oktober 2016) di Balai Bahasa Yogyakarta.

Visi dan cita-cita Kadang Kala adalah menjadi ruang alternatif bagi kreator-kreator muda untuk berproses bersama dalam bingkai “kesenian apapun,” menghormati perbedaan dan keberagaman, memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, sembari menumbuhkan nalar estetis sekaligus akademis bagi siapapun yang datang dan terlibat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *