“PEREMPUAN MATI DI BAWAH JEMBATAN” SINGLE & VIDEO MUSIK TERBARU DARI YAB SARPOTE

Empat tahun sebelum versi live lagu “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” menjadi lagu latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Institute bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia, sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media, lagu ini dinyanyikan pertama kali di panggung solidaritas untuk para perempuan korban dan penyintas kekerasan seksual pada 10 Mei 2015 di Titik Nol Jogja. Empat tahun lalu, puluhan orang hadir dalam acara yang diadakan untuk mengecam perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap E.M., seorang mahasiswi UGM. Pada suatu pagi, EM ditemukan sudah tak bernyawa di bawah Jembatan Janti, Jogja. Pelaku kekerasan tersebut adalah pelanggan angkringan milik E.M.

Data dari Komnas Perempuan menunjukkan, selama 12 tahun kekerasan terhadap perempuan meningkat delapan kali lipat atau setara 792 persen di Indonesia. Sepanjang 2019 sendiri, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus. Ini baru kasus yang terlaporkan dan tercatat. Kemungkinan besar kasus yang sebenarnya lebih banyak. Data ini menunjukkan betapa perempuan makin hari makin hidup dalam dunia yang tidak aman.

Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan ini diperparah dengan cara pandang dan perlakuan mayoritas masyarakat yang bias gender terhadap korban dan penyintas kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Para perempuan yang menjadi korban dan penyintas seringkali bukannya memperoleh pembelaan, perlindungan, dan dukungan, tetapi tuduhan dan pengambinghitaman (victim blaming). Para korban dan penyintas kekerasan seksual seringkali dipandang tidak dapat menjaga diri, tidak dapat berpakaian yang ‘sewajarnya’, dan tidak dapat memenuhi ekspetasi masyarakat dalam berperilaku. Kekerasan terhadap perempuan seringkali dimaklumi dan dicap bersumber dari kesalahan perempuan sendiri.

Dalam dunia yang mengancam seperti ini, perempuan, khususnya yang jadi korban dan penyintas kekerasan, harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan. Korban dan penyintas kekerasan tidak hanya menghadapi trauma kekerasan dari pelaku, tetapi juga trauma kekerasan dari masyarakat. Maka, tak jarang para korban dan penyintas kekerasan mengalami depresi dan gangguan mental, bahkan memiliki tendensi bunuh diri.

Lewat lirik, nada, dan komposisinya, lagu ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’ mencoba menafsirkan dan merepresentasikan ketertekanan dan ketertindasan perempuan dalam dunia yang menormalkan kekerasan berbasis gender ini.

Selama rentang 2015-2019, hanya ada versi live “Perempuan Mati di Bawah Jembatan”, versi yang dijadikan lagu latar film dokumenter yang telah disebutkan sebelumnya. Baru pada akhir 2019, Yab Sarpote memutuskan untuk merekam lagu ini secara serius dengan merangkul Rarya Lakshito (Cello) dan Sheila Maildha (Keyboard) untuk memperkaya lagu yang biasanya dibawakan hanya dengan gitar akustik ini. Hasilnya adalah rilis audio resmi saat ini.

Proses rekaman, mixing, dan mastering “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” dilakukan di Studio Jogja Audio School oleh salah satu engineer studio tersebut, yaitu Eta. Karya visual lagu ini didesain oleh desainer grafis asal Bulgaria, yaitu Davey David, sementara seluruh produksi dan pascaproduksi video klipnya digarap secara mandiri oleh Yab Sarpote.

Paralel dengan hal tersebut, video klip lagu ini juga mencoba menvisualkan trauma, depresi, gangguan mental, keterasingan, dan tendensi bunuh diri yang dialami oleh perempuan yang jadi korban kekerasan. Video klip ini mencoba merepresentasikan salah satu respons fisik dan mental perempuan setelah mengalami kekerasan seksual.

Audio lagu ini dapat disimak di iTunes, Spotify, dan platform digital lainnya. Sementara itu, video klipnya dapat ditonton di Youtube.

PROFIL YAB SARPOTE

Yab Sarpote adalah penyanyi solo dan pengarang lagu bergenre pop, folk, balada, dan akustik.
Dia memulai debut solonya pada April 2015 dengan merilis single ciptaannya “Jangan Diam, Papua” versi akustik trio. Lagu ini turut dirilis dalam album kompilasi “Papua Itu Kita” (2015), sebuah album solidaritas untuk Papua Barat, bersama musisi-musisi lain seperti Iksan Skuter, Sisir Tanah, Last Scientist, Simponi, Siksa Kubur feat. Morgue Vanguard. Album ini dirilis dalam sebuah konser pada Juni 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada 16 Oktober 2016, dia merilis single keduanya “Benih” –tembang persembahan untuk Munir, Marsinah, Wiji Thukul, Udin, Salim Kancil, korban tragedi ’98 dan orang-orang yang hilang atau dibunuh dalam perjuangannya demi keadilan dan kemerdekan di Indonesia. Single dan video klip “Benih” menjadi salah satu pemenang dan dikurasi di Museum Hak Asasi Manusia, Omah Munir, Malang, pada Juni 2019.

Pada 2017, Yab merilis singlenya yang lain yaitu ‘Sudah Tak Ada Lagi Pulang’ yang banyak berkisah tentang bagaimana pembangunan dan modernisasi menggusur ruang hidup masyarakat pedesaan, khususnya para petani.

Pada April 2020, Yab merilis single dan video klip ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’, lagu yang telah diproduksi pada 2015 dalam bentuk audio live, dan pada 2019 digunakan sebagai lagu latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Institute bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia, sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media.

Kini Yab menghabiskan waktu penulisan lagunya selama malam-malam singkat selepas kerja.

Saluran Publikasi

Homepage: www.yabsarpote.com
Spotify: https://open.spotify.com/artist/2Ij462nyQ3J1lyqpvsSTCg?autoplay=true&v=A
Facebook dan YouTube: Yab Sarpote
Instagram: @yab.sarpote

Kontak:
Mobile: 085781177719
Email: yabsarpote@gmail.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *